2020: Abai, Dengar & Belajar


Ini adalah rangkaian terakhir tentang 2020. Terima kasih yang sudah mengikuti perjalanan dari tulisan pertama.

Tahun ini… Sebentar tarik napas dulu, kalau diingat-ingat kembali, adalah tahun saya sering abai dengan diri sendiri terutama soal perasaan. Setelah setengah tahun rasanya babak belur karena perasaan sendiri—marah, kecewa, putus cinta, putus asa, saya jadi sering mengabaikan hal tersebut instead of mendengarkan, menerima dan menyelesaikan satu persatu hanya untuk tidak merasakan apapun. Padahal, sifat abai itu malah bikin saya masih ada di loop yang sama kayak sebelumnya. Sering kali saya tidak mengindahkan apa yang saya rasakan, perasaan-perasaan yang kadang bikin malah jadi kesel sama diri sendiri yang kalo dikalimatkan begini kira-kira “Apaan sih kok kamu ngerasain ini?!”

Continue reading “2020: Abai, Dengar & Belajar”

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

2020: Hati dan Menerima


Salah satu do’a yang tidak pernah luput saya minta sama Tuhan di tahun 2020 ini adalah “Ya Allah, tolong lapangkan dan tabahkanlah hati ini dalam menerima segala sesuatu.” Sungguh, menerima adalah suatu hal yang buat saya pribadi cukup sulit untuk dilakukan. Kalau di persentasekan, dari 100 hal yang terjadi di hidup saya, setengahnya masih sulit untuk saya terima. Sungguh, buat sepenuhnya ikhlas dan menerima itu cukup berat untuk dilakukan secara cepat, dalam artian saya selalu butuh waktu untuk memetakan semua titik-titiknya sehingga tergambar sebuah pola yang pada akhirnya bikin saya bergumam “Oh gini ya maksud dan tujuan kenapa saya ada di kondisi seperti ini.” Terkadang untuk mencapai level menerima tersebut, saya perlu cocoklogi dulu sebab-akibat dan tujuan kenapa saya bisa mendapatkan hal A, hal B, hal C. Waktunya tidak sebentar, bahkan untuk ketemu jawaban dari pertanyaan ‘kenapa?’ itu buat saya bisa bertahun-tahun.

Continue reading “2020: Hati dan Menerima”

2020: Prolog


Ada berapa banyak orang yang gagal, jatuh, kesepian, patah hati, insecure, tahun ini?

Lalu ada berapa banyak orang yang bangkit, berdamai, memafkan dan bisa lebih mencintai diri sendiri tahun ini?

Rasanya nggak afdol kalau tahun 2020 nggak saya abadikan di blog, biar tahun depan, dua tahun kemudian, mungkin lima tahun lagi, saya bisa kembali buka beberapa ingatan saya soal tahun 2020. Sejujurnya saya masih bingung mau dibuka seperti apa postingan ini, saya juga awalnya tidak ingin bercerita banyak, tapi karena momennya lagi pas, jadi selamat datang di postingan saya tentang 2020.

Continue reading “2020: Prolog”

cheers to more coffee shop hunting with you!


Dua tahun yang lalu—eh, ups, tiga maksudnya, saya berkenalan dengan seseorang yang tiba-tiba menghubungi via Line namun namanya asing buat saya. Tidak pernah terdengar, tidak pernah mendengar orang menyebutkannya juga dan saya rasa tidak pernah ada nama itu selama saya berusaha menghapal nama-nama kakak tingkat sebagai tugas mahasiswa baru. Padahal, ia mengaku sebagai mahasiswa 3 tingkat di atas saya dan satu jurusan juga namun beda program studi. Saya menanyakan padanya perihal dapat kontak saya darimana, dengan sedikit skeptis karena saya adalah mahasiswa semester 2, takut-takut berbuat kesalahan padanya yang saya tidak sadar. Ternyata dia mendapatkan kontak saya dari teman sekelas saya, Albert, lalu saya tanyakan keabsahannya pada Albert dan ternyata benar. Sesama teman bermain game, kata Albert. Oke baik.

Continue reading “cheers to more coffee shop hunting with you!”

Menjadi Baru


#nowplaying Young Girls – Bruno Mars.

Mulai dari postingan ini, saya akan mengubah cara menulis di blog menjadi pakai ‘saya’ yang setelah bertahun-tahun pakai ‘gue’. Kenapa? Karena saya telah mencoba menulis beberapa tulisan pakai ‘gue’ tapi rasanya kayak hilang, mengawang, saya nggak benar-benar ada disana. Yang jadi masalah, saya pun merasa sedikit geli nulis pakai ‘saya’ tapi I’m more me when I use ‘saya’ instead of ‘gue’, mengingat saya pun di dunia asli ngomongnya pakai aku atau aing. Wk!

Tapi kok kenapa nggak pakai ‘aku’ aja kayak ngobrol sehari-hari? Pengennya sih pake aing, tapi jangan deh soalnya kurang universal. Sebenernya ini sedikit bikin dilema ya, pakai saya kesannya terlalu formal tapi pakai aku kesannya terlalu imut. Jadi aing kudu kumaha?! Akhirnya saya memilih saya, biar kalau nulis yang sedikit galau atau serius, cucok dibacanya.

Alasan lainnya… Ah udah, nggak ada alasan lagi kenapa sekarang nulis pakai saya. Yang penting, semoga saya nggak kegelian di tulisan-tulisan setelah ini. Semoga saya menemukan diri sendiri dalam tulisan-tulisan setelah ini. Semoga kalian–kalau masih ada yang baca blog ini, nggak kegelian juga melihat perubahan cukup drastis dari cara menulis saya.

Eh ngomong-ngomong, sekarang saya udah punya medium loh (disaat orang-orang udah bikin dari kapan tau). Masih ngulik cara mainnya sih, rencananya mau nulis disana juga sedikit-sedikit tapi pakai Bahasa Inggris. Biar apa? Biar gaya dong, pakai bahasa universal.

Sampai bertemu lagi sama saya, di tulisan-tulisan lainnya. Sekarang gue-nya sudah tiada.

Perihal Lagu dan Sebuah Kejadian


#nowplaying If You Don’t Know – 5SOS.

Salah satu alat paling efektif untuk membawa kita kembali ke masa lalu adalah lagu. Lagu bisa menarik seseorang untuk kembali ke sebuah kejadian, entah berbentuk emosi/perasaan, potongan-potongan gambar atau malah inget secara utuh kejadian waktu itu kayak gimana dari mulai rasanya dan gambarannya. Seperti yang lagi gue dengerin ini, lagunya 5 Seconds of Summer, band yang sempet gue kagumi disaat orang lain ngefansnya sama One Direction.

Continue reading “Perihal Lagu dan Sebuah Kejadian”